Senin, 13 April 2015

pandangan islam terhadap agama lain



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah adalah kata yang pantas kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT. karena atas limpahan dan hidayah-nya sehinnga saya dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “pandangan islam tentang agama lain”. Yang dimana saya akan mencoba untuk membuat penelitian sekaligus membuat makalah ini dari hasil penelitian saya.
            Salam serta salawat supaya tetap tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Beliaulah yang memperjuangkan umat islam sehingga dapat jaya seperti sekarang ini .        
            Kemudian saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat baik penulis maupun pembaca. Saya menyadari bahwa dalam makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari kita semua sangat saya harapkan untuk perbaikan makalah yang akan datang.




Samata, 30 Oktober 2013
                   Penyusun

                                                                                                Awal Alyuhian



DAFTAR ISI
Kata pengantar ……………………………………………………………….……………………i
Daftar isi………………………………………………………………………..…………………ii
Latar belakan………………………………………..……………………..………………………1
A.    Pendahuluan………………………………...………………………..……………………2
B.     Rumusan Masalah…………………………..…....…………………..……………………2
Pembahasan………………………………………...……………………...………………………3
A.    Pandangan islam tentang agama kristen……….……..………………...…………………4
B.     Pandangan islam tentang agama hindu……………………………………………………5
C.     Pandangan islam tentang agama budha………………………...…………………………6
D.     Pandangan islam tentang agama kong hucu...……………………………………………7
Penutup……………………………………………………………………………………………8
A.    Kesimpulan………………………………………………………………………………..8
B.     Sumber……………………………………………………………………………………8











PENDAHULUAN
A.   Latar belakan
Islam, katolik, dan, kristen memiliki sumber awal yang sama. Allah(islam), Allah Bapa(katolik&kristen), Yahweh(yahudi), adalah tokoh (pribadi) Tuhan yang sama tapi disebut dengan kata atau bahasa yang berbeda. Keempat agama ini dikenal sebagai agama samawi (agama langit), merujuk pada kedudukan Tuhan yang dipahami sebagian besar penganutnya sebagai berkedudukan di atas atau di langit.
Budha,  konghucu dan hindu hampirsama dalam hal sumber pertama ajarannya. Buku suci dan sumber pertama ajarannya adalah karangan orang orang pertamanya atau tokoh sucinya. Jadi kalau agama samawi itu buatan tuhan, kalau agama budha kejawen konghucu dan hindu, bisa dibilang buatan atau hasil karya tangan manusia,
B.     Rumusan masalah
·         Pandangann islam tentang agama Kristen
·         Pandangann islam tentang agama Hindu
·         Pandangann islam tentang agama Budha
·         Pandangann islam tentang agama Kong hucu









PEMBAHASAN
A.    Kristen
Agama Islam tidak mengakui Yesus sebagai putera Allah, melainkan Yesus  menurut Islam ialah putera maryam yang tidak mempunyai ayah. Dalam hal ini mereka menyangkal Keilahan Kristus.
Pandangan Islam tentang Yesus berbeda dengan ajaran Kristen. Perbedaan utama terletak pada persoalan ketuhanan Yesus, yang dalam manuskrip al-Qur'an dan bahasa Arab disebut Isa al-Masih. Pemeluk Islam mempercayai Isa Al Masih adalah seorang nabi dan juga seorang rasul yang diutus khusus untuk bangsa Israel. (makna rasul di dalam Islam berbeda dengan maknanya di dalam Kristen, lihat artikel tentang nabi). Dalam ajaran Islam, ia termasuk salah satu nabi yang termasuk rasul Ulul Azmi, yaitu rasul yang sabar dan tabah dalam mendakwahkan ajaran Allah. Nama Yesus sendiri (tanpa kata ganti orang) disebutkan sebanyak dua puluh delapan kali di dalam al-Qur'an.
Dalam Al-Quran Surah An-nisa ayat 157 “ mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibkannya tetapi ia disilabkan dimata mereka”. ( S. An- nisa, ayat 158 ) Mereka tidak membunuhnya dengan segala keyakinan tetapiTuhanmemgangkatnya‟. Jadi menurut pendapat saya bawah Isa almasih tidakdi salibkan melainkan Ia hanya dimiripkan di mata orang banyak. Orang Islam pun tidak percaya bahwa Yesus bukan merupakan penebus dosa manusia serta Kaum Muslimin tidakpernah dapat menerima pemikiran bahwa Allah mau mnejadi manusia untuk mati bagi dosa-dosa dunia ini.
Pandangan Islam terhadap kitab dengan tegas dikatakan dalam ayat Al-Qur‟an:“Maka kecelakaan yang bersalah bagi orang-orang yang menulis Al-kitab degan tanganmereka sendiri lalu dikatakannya ini dari Allah(dengan maksud) untuk memperolehkeuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Celakalah bagi mereka oleh karena apa yangditulis dengan tangan mereka sendiri, dan celakalah bagi mereka, karena apa yang merekakerjakan”. (S. Al-Baqarah, ayat 79). Berdasarkan hadis di atas umat islam hanya percaya dan menerima perkataan Isa-Almasih, tetapi menolak apa yang di tulis dalam kitab karena sudah adanya campur tangan dari manusia yang ajarannya bertentangan dengan Tauhid sehingah ditolak namun sebaliknya jika tidak bertentangan maka akan diterima. Pandangan Terhadap Kepercayaan Dalam agama islam Yesus adalah salah satu nabi yang tergolong dalam ulul azmi,yakni nabi dan rasul yang memiliki kedudukan tinggi/istimewa bersama dengan Muhammad,Ibrahim, Musa dan Nuh.Yesus juga bukanlah Tuhan maupun anak Tuhan, melainkan salahseorang manusia biasa yang diangkat menjadi nabi dan rasul, sebagaimana juga setiap nabi lain yang diutus pada masing-masing kaum.
B.   hindu
Saya seorang muslim juga ibu saya.senarnya situasi keluarga saya itu agak unik. Agak berbeda tapi tapi menyenangkan buat saya. Kebetulan ibu saya muslim. Sudah hampir dua puluh enam tahun saya dibesarkan oleh ibu saya yang muslim. Ayah saya Hindu. Yang sangat menarik setiap Nyepi, ibu saya juga ikut melakukan Nyepi. Justru yang paling kuat ingin melakukan ritual Nyepi itu ibu saya. Ibu saya bisa tahan berpuasa dua puluh empat jam. Saya sendiri justru tidak tahan. Sebaliknya kalau Ramadhan selama satu bulan saya tidak pernah bolong. Jadi ibu saya selalu mengatakan bahwa Nyepi itu maknanya bersifat umum. Ibu saya merasa bahwa memang kita semua butuh satu hari khusus untuk memikirkan atau mengevaluasi apa saja selama tahun ini yang sudah kita perbuat, apa resolusi yang ingin kita lakukan di masa depan. Jadi di situ letak universalitas ritual Nyepi menurut ibu saya.

Saya masih ingat juga pada hari raya Nyepi, siang hari sebelum malam, kami bertiga selalu baca Kitab Mahabarata. Saya sampai hafal Mahabarata dari awal sampai akhir, karena setiap Nyepi saya pasti disuruh baca Mahabarata. Bapak saya selalu bilang, inilah kitab pelajaran hidup. Setiap Nyepi saya selalu diingatkan siapakah Panca Pandawa, siapakah Kurawa. Jadi sekarang saya agak kangen sebenarnya saat-saat seperti itu, setelah seringkali saya suka mengkritik balik ayah saya ketika saya sudah beranjak dewasa sekarang.
Saya sendiri tumbuh dalam keluarga dengan suasana keagamaan yang sinkretis. Ibu saya Islam dan ayah saya seorang hindu, jadi memang sangat dekat dengan Hindu. Beberapa pandangan hidupnya memang bersinggungan dengan Hindu. Karena itu saya merasa tidak ada perbedaan pendapat dalam keluarga saya. Karena kebetulan agama Islam yang diajarkan oleh ibu saya adalah Islam yang sangat toleran. Ibu saya menganggap bahwa hidup itu tidak akan pernah bisa murni, tidak bercampur dengan adat, kebiasaan orang lain. Kita di Indonesia ini ada macam-macam agama. Jadi ketika di luar rumah saya melihat fenomena benturan antar agama, saya suka bingung sendiri. Karena ketika di dalam rumah saya diajarkan bahwa agama itu pesannya adalah selalu damai, selalu kebaikan, selalu kohesif, selalu harmonis. Saya sadar memang lingkungan di luar itu menganggap bahwa agama adalah identitas beku yang harus kita bawa sampai mati




C.     Budha
Mendorong dan mengembangkan hubungan yang baik dan dialog antara umat Buddha dan Muslim di Indonesia adalah penting dan tentu sangat bermanfaat. Perhatian utama dalam pengembangan saling pemahaman antara umat Buddha dan Muslim terletak pada usaha para pemimpin kedua agama, di luar latar keadaan di mana umat Buddha dan Muslim hidup saling berdampingan masa kini.
Mengenai Tuhan, satu-satunya unsur yang disanggah ajaran Buddha adalah (bahwa) pencipta mahakuasa yang bisa mencipta tanpa dipengaruhi oleh hal lain apa pun, bahkan dari keinginan untuk mencipta.
Ajaran Buddha tidak menyanggah sifat-sifat lain dari Tuhan, atau bahkan penciptaan itu sendiri. Sebagai contoh, anuttarayoga tantra menjelaskan bahwa cita bercahaya jernih tiap orang adalah pencipta dari segala perwujudan yang dialami orang tersebut, dan ini dipengaruhi oleh karma pribadi orang tersebut maupun karma bersama. Selain itu, sebagai kebenaran paling dalam, cita yang bercahaya jernih berada di atas kata-kata dan pola pikir, sebagaimana Allah. Al-Quran menyebutkan: "Maha suci Allah di atas dan melampaui segala yang dapat mereka gambarkan."
Salah satu sifat inti dari Allah adalah al-haqq – yang nyata, benar, tepat, juga dalam kerangka etika. Ini memiliki pertalian dengan Dharma dalam pengertian dharmata – kebenaran paling dalam, Dharmakaya kesadaran mendalam. Manjusri, cita bercahaya jernih adalah (55-56) “Dharma yang keramat, penguasa Dharma … hamparan kenyataan agung yang terhancurkan.” Di tempat lain, (47) “ Ia yang begitu sempurna, tanpa sifat-identitas, keadaan nyata,” (157) “Ia adalah kemurnian dan keagungan dari kebenaran paling dalam.” . Bila kita mendekati semua sifat bersama ini dalam cara yang majemuk dan penuh hormat, tanpa bersikap menghakimi atau mencoba memasukkan ajaran pihak lain sebagai semata variasi ajaran kita, kita akan memiliki dasar kuat untuk keselarasan agama.






D.    Kong hucu
Melihat ajaran-ajaran pokok agama Konghucu seperti yang saya dapat dari beberapa sumber sebelumnya, maka terdapat persamaan dan perbedaan antara ajaran agama tersebut dengan Islam. Persamaannya adalah sebagai berikut: Bahwa manusia harus mempunyai sifat samawi (berbudi luhur), artinya harus mempunyai hati yang longgar, berjiwa toleransi terhadap sesama manusia, suka menolong tidak mebedakan satu sama lain, walaupun sederajat tinggi atau rendah, baik yang berkulit putih maupun berkulit hitam. Demikian pula dalam Islam, dalam al-Qur’an banyak disebutkan ayat-ayat tentang hal ini, di antaranya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) sungguh dalam akhlak yang sempurna.” (Q.S. an-Nur: 4) “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Q.S. al-Hujurat: 10)
Adapun perbedaannya antara lain:
1.       Agama Konghucu tidak pernah mempersoalkan tentang Tuhan, tentang kiamat dan akhirat, tentang hidup sesudah mati daln lain-lain. Sedangkan agama Islam membicarakannya, bahkan soal-soal itulah yang harus diutamakan dan diyakini oleh tiap-tipa pemeluknya. Rukun Iman yang enam yaitu: percaya kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Malaikat-Nya, percaya kepada Kitab-Kitab-Nya, percaya kepada Rasul-Rasul-Nya, percaya kepada hari kiamat, percaya kepada Qodho dan Qadar. Kesemuanya harus diyakini betul-betul di dalam hati, sebelum melaksanakan syariat-syariat bersifat lahiriah misalnya shalat, puasa, dan lain-lain.
2.       Agama Konghucu lebih mengutamakan soal-soal keduaniaan saja, terutama etika dan sopan santun. Sedang agama Islam mengutamakan soal-soal dunia dan akhirat kedua-duanya sama-sma penting (ibadah dan muamalat). Pada pokonya, Islam meliputi Iman, Islam, dan Ihsan yang ketiga-tiganya tidak dapat dipisahkan.












PENUTUP
A.    Kesimpulan
bahwa inti dari beragama adalah ketundukan, yakni tunduk kepada apa saja yang menjadi aturan dan ketentuan Tuhan tanpa harus tahu lebih dulu tujuan dan hikmahnya. Kita semua faham bahwa tiap agama berbeda satu sama lain, bahkan ada yang secara diametral bertentangan. Itu artinya tidak mungkin semuanya benar. Kalaupun ada yang benar tentu hanya satu saja, karena masing masing berbeda. atau bisa jadi semuanya salah
Hal lain yang mutlak harus dijadikan prinsip umat beragama adalah prinsip toleransi (al-tasamuh). Ini berangkat dari kesadaran bahwa segala perbedaan, termasuk perbedaan dalam beragama, merupakan fitrah kemanusiaan. Mengingkari perbedaan berarti mengingkari fitrah. Sejalan dengan fitrah itu, al-Qur’an menyatakan: “Barang siapa mau beriman silahkan beriman, dan barang siapa mau kafir silahkan kafir” (Qs. al-Kahfi : 29). Dengan prinsip toleransi, maka tidak diperlukan upaya menyatukan agama dan tidak perlu ada usaha menciptakan keyakinan bahwa semua agama benar. Sebaliknya, dengan adanya keyakinan semua agama benar tidak diperlukan toleransi dalam agama.
Salah satu realitas yang banyak terjadi di atas bumi ini ialah, bahwa pemeluk suatu agama bangga dengan agamanya dan berkeyakinan bahwa agama yang ia anut saja yang benar kemudian berupaya untuk membentengi agamanya itu, misalnya dengan memperkokoh tali ukhuwwah diniyyah di antara sesama pemeluk agama tersebut.